TPNPB Tidak Mau Kembalikan Senjata Rampasan ke TNI

TOTHEPOINT – Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau TPNPB, Sebby Sambom menyatakan pihaknya tidak akan mengembalikan tiga pucuk senjata api yang mereka rampas dalam penyerangan terhadap prajurit TNI di Kabupaten Yahukimo.

Hal itu dinyatakan Sambom menanggapi tenggat waktu yang diberikan TNI untuk mengembalikan senjata api itu.

Sambom menyatakan pihaknya telah merampas tiga pucuk senjata dalam penyerangan yang menewaskan dua prajurit TNI di Kabupaten Yahukimo.

Dalam penyerangan ke kamp PT Pentagon Terang Asli yang menggarap proyek tanggal di Kali Brasa itu, TPNPB merampas dua pucuk senapan SS1 dan sepucuk pistol.

“TPNPB tegaskan tidak akan kembalikan senjata rampasan,” kata Sambom dilansir dari Jubi, Jumat (21/5/2021).

Ia menyatakan pemerintah Indonesia dan TNI tidak memiliki hak untuk memaksa rakyat Papua menjadi bagian dari Indonesia, dan mengancam-ancam rakyat Papua.

Menurut Sebby, rakyat Papua adalah pemilik negeri Papua, ada di kampungnya bersama pasukan TPNPB. Sambom menyatakan pihaknya akan menghadapi militer Indonesia dengan senjata mereka sendiri.

“Pasukan militer dan polisi Indonesia adalah kriminal yang telah dan sedang lakukan tindakan terorisme terhadap orang asli Papua. TPNPB berdiri membela Hak Asasi Manusia rakyat bangsa Papua. TPNPB tidak takut perang, kami tahu hukum perang. Pencuri lawan pemilik negeri, maka hukum perang memihak pemilik negeri,” ujar Sambom.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Yahukimo telah menggelar rapat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan para tokoh masyarakat di Dekai pada Kamis (20/5/2021), membahas kasus penyerangan terhadap prajurit TNI di Deikai itu.

Pada rapat itu, Komandan Pos Kostrad 432 Dekai, Letda Inf Fada Lubyantoko berharap Bupati Yahukimo para tokoh membantu agar dua pucuk senjata yang dirampas TPNPB itu dikembalikan.

Fada mengatakan senjata api yang dirampas itu bisa membahayakan masyarakat dan aparat keamanan di Yahukimo.

“Kami memberikan waktu maksimal 2 × 24 jam, senjata itu harus sudah dikembalikan kepada Kostrad. Saya memohon untuk lebih cepat dikembalikan, karena semakin lama barang itu dikembalikan maka situasi di Yahukimo tidak akan tenang,” kata Fada.

Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli mengatakan perampasan senjata itu bisa mengganggu stabilitas keamanan di Yahukimo.

Ia menyatakan senjata api itu bisa mengancam keselamatan para pekerja dulang emas, para petani yang mencari makanan atau berburu di hutan, pemancing ikan di sungai, atau masyarakat yang bermukim di pinggir kota.

“Tapi kami semua satu bahasa, satu tekad bahwa [kami] menolak, mengutuk perbuatan itu, dan meminta kelompok bersenjata mengembalikan dua pucuk senjata yang hilang. Aparat yang punya wewenang untuk menangkap pelaku setelah 2 × 24 jam, oleh karena itu kami tidak tinggal diam,” kata Yahuli pada Kamis.(*)