Toleransi Kunci Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Dunia Pendidikan

TOTHEPOINT – Radikalisme dan juga terorisme menjadi dua hal yang harus dicegah agar tidak masuk ke dalam dunia pendidikan di Indonesia. Untuk itu, Yayasan Ayo Mengajar Indonesia (AMI) yang fokus membangun pendidikan tanah air menekankan pentingnya nilai toleransi dalam dunia pendidikan.

Melalui dialog Publik bertema ‘Tolerance, Yes. Radicalism, No: End Game’ yang dilakukan secara virtual mengajak bagaimana caranya untuk mengaplikasikan nilai-nilai toleransi di dunia pendidikan. Sehingga menekan radikalisme dan toleransi.

“Beberapa minggu yang lalu, kami membahas konsep, nilai yang terkandung, kalau sekarang kita mengajak untuk menjalankan caranya (aplikasi). Dialog ini membahas bagaimana cara mencegah intoleransi, radikalisme, hingga terorisme masuk ke dunia pendidikan, lewat contoh aplikatif langsung dari para pembicara,” kata Direktur Ayo Mengajar Indonesia, Adi Raharjo, yang dikutip Senin 31 Mei 2021.

Dalam kesempatan ini, salah satu narasumber teroris yaitu Founder Peace Generation, Irfan Amalee memgungkapkan beberapa hal yang digalang oleh kelompok. setidaknya ada 3 hal, yang pertama Pull Factor , Push Factor dan Personal Factor .

“Akar dari radikalisme adalah tidak toleransi, menjelekkan seseorang atau mem-bully itu biasanya menjadi radikalisme karena ada faktor tekanan dari orang lain. Kami mengajarkan generasi perdamaian dengan menggunakan permainan anak-anak dan generasi millenial dan “ujar Irfan.

Sementara itu, menurut Founder Sangkhalifa.co, Makmun Rasyid, menungkapkan agar para pengajar memberikan pelajaran kepada para siswa. Sebab sedikit apapun bibit penyakit harus diatasi sedini mungkin.

Untuk itu, ia berharap Ayo Mengajar Indonesia harus aktif mengajarkan pemahaman keagamaan yang moderat dan menanamkan nilai-nilai toleransi. “Walaupun tindakan terorisme di akhir tahun 2020 menurun, tetapi semua riset di Indonesia berada di atas 80 persen, orang yang melakukan tindakan lebih dikit, namun bibit bibitnya yang banyak” katanya.

Dalam diskusi ini, hadir juga Anggota DPR RI Komisi X, Bramantyo Suwondo yang berbicara mengenai cara mencegah intoleransi dan konflik. Menurutnya, pendidikan yang sudah terbangun saat ini sudah bagus, namun harus dimaksimalkan dengan koordinasi pengajaran dan sosialisasi terkait dengan intoleransi dan menolak radikalisme.

Bram yang mendorong, guru harus bisa memakai cara pengajaran yang kreatif dalam memaknai intoleransi. “Kita dorong bagaimana kurikulum itu kita masukan satu subjek yang memupuk intoleransi, dan kita juga harus mempersiapkan guru agar bisa melakukan pengajarannya” ujar Bram.(*)