Terjadinya Terorisme, Pemahaman Agama Ekstrim dan Sepotong-potong

TOTHEPOINT – Penyebab terjadinya terorisme adalah pemahaman agama yang ekstrim dan sepotong-potong, penyimpangan terhadap sejarah agama karena dikombinasikan dengan idealisme yang berlebihan terhadap aliran agama pada masa tertentu sampai penyebab politik, ekonomi, sosial dan provokasi ajakan media sosial.

“Pengaruh paham radikalisme yang didepan mata sudah masuk diberbagai lembaga pendidikan. Penanggulangan menyebaran paham radikalisme tidak bisa diatasi secara parsial tapi harus bersama-sama dengan lembaga pendidikan, ormas, instansi, dan lingkungan masyarakat sekitar,” Kanit 4 Satintelkam Polres Tangsel H. Cecep, dalam acara Kajian dan Obrolan Akademik (KOMIK) Show yang dihadiri oleh puluhan peserta di Rimbun-Taman Konservasi, Kamis (17/6/2021).

Acara tersebut diadakan oleh Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia Cabang Tangerang Selatan (SEMMI Tangsel), membahas tentang ‘Memperkuat Generasi Muda untuk Cerdas dalam Menangkal Narasi Propaganda Radikalisme dan Terorisme’, yang disampaikan langsung oleh 5 narasumber yaitu TA Kadensus 88 Anti Teror Islah Bahrawi, Analis Direktorat Pencegahan BNPT RI Fery Novrika, Direktur Eksekutif LBH Situmeang Anri Saputra Situmeang, Direktur Politik dan Kebijakan Publik Merial Institute Deny Giovano.

Fery, narasumber kedua juga menjelaskan beberapa kasus terorisme yang terpengaruh dari media sosial karena provokasi yang dibalut dengan ajakan agama namun malah menjadi pelaku teror.

“Kita bisa katakan bahwa fenomena radikal terorisme mirip hari ini dengan bagaimana seseorang terinfeksi virus covid, seseorang tidak pernah sadar dengan keadaan tertentu dan kualitas tertentu. Bukan asal kata, dari salah satu peneliti filsuf yang meneliti bagaimana terjadi pada kesadaran manusia sehingga manusia saling membunuh, salah satu kesimpulannya adalah kesadaran manusia itu tipis seperti lapisan cat dalam tembok,” lanjutnya.

Anri juga menegaskan bahwa jangan sampai libatkan terorisme atau radikalisme itu beracu pada agama karena terorisme atau radikalisme itu tidak ada hubungannya dengan agama.

Menurutnya, kejahatan radikalisme dan terorisme adalah kejahatan luar biasa atau extraordinary crime yang awalnya terorisme adanya radikalisme tentang suatu doktrin-doktrin yang seolah masuk akal sehingga sampai mencuci otak untuk melakukan tindakan terorisme.

“Yang dilakukan oleh teman-teman SEMMI Tangsel ini adalah salah satu pencegahan agar tidak tertular lebih banyak kepada pemikiran-pemikiran terorism,” sambungnya

Pandangan yang berbeda dengan narasumber yang sebelumnya, Deny berbicara mengenai filosofis tentang radikalisme, dia kurang sepakat apabila radikalisme ini dikaitkan dengan terorisme.

“Kalau berbicara akar kata radikalisme adalah radiks dari bahasa latin artinya akar, sifat orang yang mengakar. Radikal itu tidak selalu dikaitkan dengan hal-hal yang buruk, persoalan bukan di radikalismenya tapi bagaimana paham yang kita perjuangkan itu apakah sejalan dengan kemanusiaan atau tidak, itu yang harus dipahami oleh teman-teman, apapun ideologinya,” jelasnya.

Penjelasan terakhir datang dari Islah, menurutnya radikalisme adalah untuk suatu gerakan yang menuju ekstrim. Secara definisi radikalisme itu simpang siur, banyak akademisi di dunia ini tidak memiliki kata sepakat tentang radikalisme, ada yang mengatakan cenderung negatif ada yang bilang juga ada positifnya.

“Yang kemudian akhirnya radikalisme ini identik dengan kegiatan-kegiatan yang destruktif,” pungkasnya. Radikalisme ini identik dengan kekerasan yang berbentuk kekerasan ekstrimisme dan terorisme artinya radikalisme ini adalah milestone atau first step dari proses menuju kepada terorisme,” jelasnya.