Tangkal Radikalisme dengan Membangun Dialog Menyejukkan

TOTHEPOINT –Ketua Umum Prajaniti Hindu Indonesia KS Arsana mengatakan untuk mempererat dan menguatkan persatuan dan kesatuan, bangsa Indonesia membutuhkan sarana komunikasi di antara kelompok kepentingan berbeda.

Oleh karena itu, dialog antar kelompok kepentingan berbeda saat ini diyakini menjadi sangat penting sebagai tameng masyarakat dalam menghadapi tantangan perbedaan baik dari sisi agama, etnis dan budaya serta beragam apsek perbedaan lainnya.

Penegasan disampaikan KS Arsana dalam sambutannya dalam Dialog Kebangsaan Prajaniti (DKP) perdana yang diselenggarakan secara virtual, Sabtu (10/7/2021).

Pada DKP perdana ini, penyelenggara mengambil tema “Menangkal Radikalisme dan Sebaran Berita Hoaks di Era Keterbukaan Informasi”.

Hadir empat narasumber sebagai pembicara yaitu Gede Narayana (Ketua Komisi Informasi Pusat RI), Romo Antonius Benny Susetyo (Stafsus Ketua Dewan Pengarah BPIP), Dr. HM. Asrorun Ni’am Sholeh (Deputi Bidang Kepemudaan Kemenpora RI), dan Brigjen Pol R. Ahmad Nurwahid (Direktur Pencegahan Terorisme BNPT RI).

Pada pengantar dialog, KS Arsana menekankan dialog kerukunan antar umat penting untuk menangkal paham radikalisme dan esktrimisme yang menjadi penyebab timbulnya kejahatan terorisme.

“Kita berusaha terus melakukan dialog agar kesatuan dan persataun dapat terus dipelihara dan diperkuat, sehingga sebagai bangsa besar dengan falsasaf Pancasila dapat terus dipadukan. Indonesia negara besar dengan warna warni keindahan baik flora dan fauna, juga kebudayaan membutuhkan dialog secara terus menerus untuk menjaga persatuan dan kesatauan bangsa,” kata Arsana.

Ia berharap dengan komunikasi dan dialog secara intensif dan melandasinya dengan etika, tata krama, sopan santun termasuk menghargai perbedaaan maka akan menjadi senjata efektif melawan ujaran kebencaian atau berita tidak benar.

“Termasuk keberanian kita dalam melawan hal-hal yang tidak baik diantaranya radikalisme,” tegasnya.

Sementara itu, Romo Antonius Benny Susetyo (Stafsus Ketua Dewan Pengarah BPIP) mengatakan diskusi webinar, virtual atau isitilah penamaan lain berbasis digital sudah sepattunya terus dikembangkan.

“Karena di era digital ini adalah bagaimana merebut ruang publik. Karena ruang publik itu adalah pertarungan ide dan gagasan. Jangan sampai ide dan gagasan dikuasai suatu golongan yang dominan tapi menjalankan pertentangan SARA, menyebabkan kelompok ekslusif yang dapat menghacurkan hidup berbangsa dan bernegara,” kata Romo Benny.

Romo Benny mengakui ada banyak platform media sosial di dalam dunia digital seperti twitter, instagram, facebook dan lainnya, hyang kesemuanya itu merupakan sarana berkomunikasi, menyampaikan pesan, pendapat dan lainnya.

Namun, menurutnya medsos bisa berdampak buruk apabila kotennya tidak diisi dengan hal-hal yang bersifat positif dan membangun tetapi justru diisi oleh hal-hal negatif dfan bersifat menghancurkan.

Maka komunikasi tidak hanya sekedar membangun jaringan tapi harus punya nilai tukar. Harus ada perubahan yang memiliki nilai guna. Ruang publik seperti medsos harus informasi, komunkatif dan edukasi.

“Harus diisi konten positif. Memberi semangat dan optimisme. Di sinilah sebenarnya pertarungan kita, bagaimana mengisi ruang publik dalam dunia digital dengan membangun harapan,” tegasnya.

Romo Benny mengusulkan sangat mungkin dibentuk komunitas di medsos dengan komunitas untuk membangun harapan tersebut, seperti dialog antar umat, atau komunitas pemulia kata. “Perlu dibangun dalam medsos kita, komnitas pemulia kata. karena ruang publik harus diisi konten positif,” tegas Romo Benny.