Tak Ingin Cemari Lingkungan, Papua Gunakan Noken dalam Keseharian

Noke Papua, gambar istimewa
Noke Papua, gambar istimewa

Tothepoint.id, Jayapura – Penggunaan kantong plastik berdampak buruk kepada lingkungan jika tak diolah dengan semestinya. Inilah yang membuat masyarakat di Jayapura, Papua, menerapkan larangan penggunaan kantong plastik.

Dalam penerapannya, masyarakat Papua menjadikan Noken (anyaman tas khas Papua) sebagai alternatifnya.

Kendati demikian, pembuatan noken terbilang lama. Para mama-mama dan anak perempuan mereka, terlebih dahulu mengambil serat dari pohon. Dengan cara memukuli kulit kayu menggunakan kayu, kemudian diangin-anginkan hingga kering, lalu dipintal dan dirajut.

Pewarnaan noken menggunakan bahan alami. Suku Yali menggunakan pewarna alami dari ekstrak buah. Serat alami berwarna pun dimanfaatkan sebagai paduan warna noken yakni serat batang Diplocaulobium regale dan serat daun Freycinetia spp.

Selain pewarna alami, noken dari beberapa suku dihiasi aksesori tambahan berupa biji-biji keras dan berwarna kontras dari tumbuhan tertentu. Selain pemanfaatan bahan dari tumbuhan, penggunaan hewan-hewan sebagai bahan baku maupun aksesoris noken kerap dijumpai.

Pewarna alami berwarna putih misalnya, berasal dari cangkang moluska yang telah dihaluskan. Aksesoris yang ditambahkan pada noken memanfaatkan pula cangkang moluska, maupun bulu-bulu burung kakatua dan kasuari.

“Melestarikan noken berarti melestarikan nilai budaya dan lingkungan. Noken tetap eksis selama pengetahuan membuat noken masih dilestarikan yaitu dengan diwariskan ke generasi muda,” kata Hari Suroto.

Artikel ini sebelumnya sudah diterbitkan di Tempo.co : https://travel.tempo.co/read/1361907/disukai-mama-mama-papua-tas-unik-ini-diakui-unesco