Safenet Sebut Penyebaran Radikalisme Melalui Medsos, dari Instagram, Facebook, hingga Telegram

TOTHEPOINT-Anggota divisi keamanan Southeast Asia Freedom of Expression Network (Safenet) sekaligus peneliti terorisme, Boas Simanjuntak mengatakan, penyebaran ideologi radikalisme agama ditemukan di beberapa platform media sosial. Boas mengatakan, pola penyebaran ideologi radikalisme agama terjadi secara terbuka dan tertutup. Pada pola terbuka, kata Boas, konten-konten berisi radikalisme itu disebarkan melalui media sosial Instagram dan Facebook.

“Terbuka banyak ditemukan di Facebook dan Instagram, dalam hal konten-konten yang lebih halus narasinya dengan warna serta tulisan yang menarik, seperti narasi ‘Anak muda bisa lakukan perbaikan’ dikaitkan dengan isu ketidakadilan, hal ini mudah memantik anak muda ikut masuk bergabung dalam aksi kekerasan,” jelas Boas dihubungi Kompas.com, Rabu (7/4/2021).

Sementara itu, penyebaran ideologi radikalisme dengan pola tertutup banyak ditemukan di media sosial Telegram. “Untuk pola tertutup, banyak ditemukan di Telegram, dalam hal perekrutan, yang membutuhkan kepercayaan tersendiri,” ujar dia.

Boas menyebut anak muda menjadi kelompok paling rentan untuk terpengaruh paham radikalisme agama dan bergabung dengan kelompok teroris. Sebab, anak muda, kata Boas, mengalami tiga proses yang rentan digunakan dalam perekrutan anggota teroris. “Pertama adalah pencarian jati diri, mencari nilai-niali baru yang dianggap cocok dengan keadaan anak muda. Kedua kondisi galau, karena semua masalah dianggap mentok,” sebut Boas.

“Ketiga, adalah kompetitif, era internet mempertunjukan kecepatan menjadi sarana yang cocok untuk terkenal serta diakui banyak orang,” kata dia.

Sebelumnya, Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Beni Mamoto menyebut bahwa anak muda yang mengakses situs radikal rawan terpengaruh. Pola yang terjalin, kata dia, setelah anak muda mengakses sebuah situs radikal, kemudian terjalin komunikasi yang intens. Proses komunikasi dua arah tersebut berujung para perekrut yang kemudian menggelar pertemuan. Pertemuan itu disebut akan berdampak besar mempengaruhi seorang anak muda yang sedang dilanda berbagai masalah.

Seperti frustasi, patah hati, hingga anak muda yang mengalami masalah keluarga. Dari hasil wawancaranya, Beni menemukan bahwa anak muda lebih tertarik dengan situs yang sarat radikalisme ketimbang situs institusi negara yang menangani tindak pidana terorisme.(*)