Prestasi Mentereng Barisan Srikandi Papua di Level Internasional, dari Sea Games hingga Olimpiade

foto: tothepoint.id

 Thothepoint.id, Papua- Perempuan di tanah Papua terkadang seringkali diposisikan berada di bawah kaum laki-laki, seperti dalam rapat-rapat adat yang selalu didominasi laki-laki. Namun tak ada yang bisa membendung perempuan di Papua untuk tetap berprestasi di kancah olahraga.

Tak tanggung tanggung, srikandi asli Papua ternyata mampu meraih prestasi olahraga bahkan hingga ke level internasioal. Sejumlah nama beken pernah menorehkan tinta emas untuk Papua dan Indonesia tentunya.

Tercatat nama nama seperti Raema Lisa Rumbewas, Nitya Krishinda Maheswari Korwa, Serafi Unani dan ratu dayung Papua Erni Sokoy.

Memang ada banyak atlet putri Papua lainnya yang berprestasi pula. Sebut saja Eklevina Rumayau atlet cabor atletik, mendiang Olce Rumaropen kapten tim volley DKI Jakarta yang bawa timnas Voley Indonesia raih medali emas di Sea Games.

Kini, giliran atlet muda Papua yang mampu menerobos kancah internasional bisa menjadi tolok ukur di mana kaum perempuan Papua bisa membuktikan prestasinya melalui olahraga.

Lisa Rumbewas

Lahir di Jayapura 10 September 1980, Raema Lisa Rumbewas, atlet angkat besi perempuan pertama yang berhasil menorehkan medali emas di cabang angkat besi olimpiade.

Bak kata pepatah, “Buah jatuh tak jauh dari pohonya”, demikianlah ungkapan yang disematkan kepada atlet angkat besi berprestasi ini. Bakat perempuan dengan nama lengkap Raema Lisa Rumbewas ini diturunkan langsung dari kedua orang tuanya yang juga merupakan atlet angkat besi.

Ayah kandung Levi Rumbewas seorang binaragawan Papua era 1980 an. Sedangkan ibunya Ida Korwa juga seorang atlet angkat besi.

Ia merupakan salah satu atlet putri Papua yang membawa medali-medali kejuaraan bergengsi internasional ke Indonesia. Pada Olimpiade Sydney 2000, Liza meraih medali perak di kelas 48 kilogram putri, selanjutnya pada Olimpiade Athen 2004, dia kembali meraih medali emas di kelas 53 KG putri. Liza satu satunya olahraga putri Papua yang pernah ikut Olimpiade sebanyak tiga kali.

Nitya Krishinda Maheswari Korwa

Nitya Krishinda Maheswari Korwa juga lahir dari turunan atlet, ayahnya mendiang Stephanus Korwa merupakan pesepak bola andalan dari Arema Malang era 1980an. Pamannya, Levi Rumbewas juga mantan atlet binaragawan nasional dan Asia.

Berbeda dengan Liza Rumbewas, sepupunya Nitya lahir di Blitar Jawa Timur pada 16 Desember 1988 dari seorang ibu asal Jawa yang menikah dengan ayahnya Panus Korwa. Nitya justru memilih bulu tangkis ketimbang sepak bola, meski ayahnya sering mendorongnya menekuni sepak bola. Namun sepupu Liza Rumbewas ini justru tertarik di bulu tangkis dan bermain pada nomor ganda putri.

Bersama pasangan gandanya Greysia Polii, dia meraih medali emas SEA Games 2011 di Jakarta. Sedangkan saat berpasangan dengan Anneke Feinya Agustin meraih medali emas di Asian Games di Incheon Korea Selatan.

Sebelumnya di kelas yunior,sudah meraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia Junior 2006 di Korea Selatan berpasangan dengan Pia Zebadiah Bernadet. Ia menekuni bulu tangkis sejak remaja hingga masuk ke pelatnas Cipayung.

Prestasi lainnya Nitya raih bersama Gresia Polli saat meraih medali perunggu di Jakarta saat kejuaraan dunia pada 2015. Cedera lutut membuat, putri kandung Panus Korwa ini harus terus menjalani perawatan hingga akhirnya harus mengundurkan diri dari dunia bulu tangkis.

Kini Nitya Korwa ini mulai menekuni profesi barunya sebagai pelatih bulu tangkis. Ia punya kegiatan baru di pelatnas Cipayung Jakarta Timur menjadi pendamping pelatih kepala ganda putri nasional Indonesia, Eng Hian dan Cahfidz Yusuf (asisten pelatih).

Serafi Anelies Unani

Jarang ada atlet putri Papua berprestasi di nomor sprinter 100 meter, tercatat nama Serafi Anelies Unani peraih medali emas pada SEA Games 2011 di Palembang.

Tercatat ia pernah meraih medali emas dengan catatan waktu 11,69 detik di nomor sprinter 100 meter. Prestasi Serafi itu menjawab puasa gelar sprinter putri Indonesia selama 12 tahun sejak medali terakhir pada Sea Games 1999 di Jakarta. Sejak itu alumni Univesitas Surbaya ini mendapat julukan perempuan tercepat se Asia Tenggara.

Erni Sokoy

Erni Sokoy mengawali karier dayung, karena kehidupan sehari hari hidup di pesisir Danau Sentani. Apalagi mendiang pelatih dayung Papua Christian Kolibu mengatakan secara antropologis perahu perempuan Danau Sentani sangat cocok untuk atlet dayung, terutama cara duduk dan mendayung.

Tak heran kalau hasil polesan Christian Kolibu beberapa kali mewakili Indonesia di cabang olahraga dayung. Ia mampu menjadi yang tercepat pada women kayak 1 (WK1) 200 meter pada Sea Games 2013 di Ngalike Dam, Naypyitaw, Myanmar.

Ia juga pernah membukukan catatan waktu 42,948 detik atau unggul 0,152 detik atlet asal Thailand Suansan yang meraih perak. Nomor spesialisnya adalam nomor women kayak 1 (WK1) juga menyumbang medali emas pada Sea Games 2013.

Erni Sokoy mengakhiri kariernya di dayung saat memperkuat tim PON Papua di PON 2016 di Jawa Barat. Di mana Erni meraih tiga medali emas di PON XIX/2016.

/https://jubi.co.id/barisan-perempuan-papua-penoreh-prestasi-olahraga-di-level-asia-dan-dunia/