Perempuan Kerap Kali Jadi Pelaku Terorisme, Kenapa?

TOTHEPOINT РKalis Mardiasih dikenal sebagai seorang penulis yang juga aktivis muda dari Nahdlatul Ulama (NU). Ia juga merupakan salah seorang anggota Sekretariat Nasional Jaringan Nasional Gusdurian.

Perempuan kelahiran Februari 1992 ini dikenal berani menyuarakan isu-isu perempuan dan menentang hal yang dianggapnya tidaklah tepat. Namun, segala yang ia suarakan selalu memiliki landasan pengetahuan. 

Kali ini, Kalis hadir dalam program Kamar Rosi episode ‘Perempuan, Milenial, dan Bom’ dengan host Rosianna Silalahi yang tayang di channel YouTube KompasTV, Selasa (6/4/2021).

Mulanya, Rosi, sapaan akrab Rosianna Silalahi bertanya alasan perempuan yang kini tak lagi menjadi korban teror, melainkan pelaku.

Kalis pun membeberkan bahwa memang bukan hal baru bila perempuan dan anak muda menjadi seorang aktor dalam terorisme. 

“Kenapa usia pelaku teror semakin muda padahal sebetulnya ini bukan yang pertama gitu kalau ngomong anak muda menjadi aktor terorisme. Sebetulnya kita pernah punya teroris paling muda. Dia usianya 18 tahun. Dia adalah pelaku teror bom Marriot,” ujar Kalis.

Di sisi lain, Kalis menegaskan bahwa partisipasi perempuan sebagai aktor terorisme ditandai oleh ISIS pada 2016 yang membentuk al-khansaa brigade.

“Kemudian di tahun 2017 sudah ada kepengurusannya dan mereka secara terang-terangan melakukan rekrumen tahun 2017 sehingga bisa dibilang secara ofisial mereka memanggil partisipasi perempuan untuk andil dalam aksi ini,” papar Kalis lebih lanjut.

Sejalan dengan apa yang disampaikan Kalis, Rosi menanggapi bahwa perempuan yang justru bersemangat untuk bergabung dalam ISIS.

“Sejalan banget sama waktu itu narasumberku bicara soal ISIS, itu memang yang sangat proaktif adalah ibunya,” kata Rosi.