Penembakan di Solok Selatan: Diduga Terjadi Pelanggaran HAM oleh Kepolisian, Pihak Korban akan Adukan ke Komnas HAM

Foto: tribunpadang.com

Tothepoint.id, Solok Selatan- Siang itu, Rabu (27/01/2020), menjadi hari suram bagi warga Nagari Sungai Pagau, Kabupaten Solok Selatan, Sumbar. Pasalnya, ketika itu sekelompok warga melakukan penyerangan terhadap kantor Polsek Sungai Pagau, buntut dari ditembak matinya DPO penjudi bernama Deki.

Seperti diketahui, pihak kepolisian menduga serangan yang mengakibatkan kantor Polsek Sungai Pagau itu rusak ialah aksi balasan terhadap penembakan seorang DPO penjudi.

Kapolres Solok Selatan, AKBP Teddy Purnanto membenarkan adanya penyerangan terhadap kantor polisi tersebut.

Teddy menuturkan, sebelumnya penjudi tersebut membacok anggota polisi sehingga ditembak oleh petugas yang berusaha menangkapnya.

“DPO yang diamankan adalah dalam perkara judi, dan sudah banyak kasusnya. Ada pengancaman, pemerasan, dan banyak lainnya,” katanya.

Ia menyebutkan, saat diamankan pelaku melakukan perlawanan sehingga menusuk personel Opsnal Sat Reskrim Polres Solok Selatan.

“Saat mau diamankan, pelaku malah melakukan perlawanan dan membacok anggota. Pelaku membacok anggota pakai golok,” katanya.

Akar Masalah, Berujung Maut

Maut yang menghampiri Deki, DPO penjudi yang ditembak mati polisi masih menimbulkan tanda tanya besar. Penembakan itu didasari lantaran korban dituding melawan ketika hendak diamankan polisi

Salah seorang anggota kepolisian pun diklaim mengalami luka di bagian tangan akibat terkena sabetan golok. Sehingga petugas melakukan tindakan tegas penembakan.

“Anggota kami kena tangannya dengan golok, terancam kan makanya melakukan tindakan tegas. Tersangka kena (tembak) di kepala, ya karena kondisi seperti itu kan,” kata Kaolres Sungai Pagau, Teddy Purnanto.

Selang penembakan terjadi, sekelompok orang kemudian melakukan penyerangan ke Kantor Polsek Sungai Pagu. Sejumlah kaca pecah dilempari batu. Jalan juga sempat diblokir massa.

Keterangan Keluarga Korban

Keluarga Deki Susanto, tersangka yang ditembak mati membantah seluruh kronologis dari pihak kepolisian. Pihak kepolisian mengklaim bahwa korban melakukan perlawanan hingga melukai salah seorang polisi.

“Yang jelas waktu itu kakak saya menyaksikan, Deki ini hanya lari. Tidak ada pegangan apapun. Kami pihak keluarga, kalau ada ahli forensik, silakan sidik jari Deki diambil,” kata Beni, ipar korban kepada wartawan, Jumat (29/1/2021).

Benni mengakui setelah insiden pengerebekan berujung penembakan itu, satu pisau dan celurit yang ada di dapur rumah hilang. Menurutnya, dua senjata tersebut yang dijadikan barang bukti oleh pihak kepolisian.

Benni mengungkapkan iparnya diakui sebagai preman hanya sewaktu muda. Setelah memiliki keluarga dan anak, iparnya tidak pernah menganggu orang. Bahkan statusnya sebagai daftar pencarian orang (DPO) yang disangkakan baru diketahui pasca insiden penembakan.

“Pihak kami baru tahu DPO setelah penembakan. Katanya DPO kasus judi. Padahal sebelumnya kami tidak pernah menerima surat apapun. Dan Deki ini tidak pernah kabur, berada di rumah terus bersama istrinya,” kata Beni menerangkan.

Akan Adukan ke Komnas HAM

Hingg berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih terus melakukan penyidikan terkait penembakan Deki tersebut.

Sementara itu, berdasarkan keterangan yang diperoleh, ada sekitar delapan orang kuasa hukum yang berasal dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pergerakan Indonesia.

Salah satu kuasa hukum keluarga korban, Guntur Abdurrahman mengatakan bahwa peristiwa penembakan ini jelas telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Menurut Guntur, peristiwa ini adalah pembunuhan.

“Kami akan laporkan kejadian ini mulai ke Presiden, Menkopolhukam, Kapolri, LPSK dan Komnas HAM. Kami akan lapor semuanya, sampai pelaku ini diberikan atau dijatuhkan sanksi yang setimpal,” katanya. (PND)