Pemerintah Harapkan NU Lebih Berperan dalam Hubungan RI-Tiongkok

Tothepoint.id- Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun mendorong Nahdlatul Ulama lebih berperan lagi dalam menjembatani hubungan antara Indonesia dengan China yang sudah berlangsung 70 tahun itu.

“NU punya peran yang luar biasa dalam lahirnya NKRI. Jadi ke depan, NU akan memainkan peran yang sangat signifikan dalam hubungan Indonesia dengan China,” katanya dalam Webinar “70 Tahun Indonesia-Tiongkok: Dari Diplomasi, Ekonomi, Teknologi, Hingga Santri” yang diselenggarakan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Tiongkok, Jumat (15/5).

Dubes juga berharap NU tidak kenal lelah dalam mengedukasi masyarakat mengenai hubungan kedua negara yang mengalami pasang-surut ini.

Menurut Djauhari, yang mendasari penguatan kemitraan antarnegara adalah hubungan antarmasyarakat kedua negara tersebut.

“Semakin banyak pelajar Indonesia ke China dan semakin banyak pelajar China ke Indonesia, maka hubungan ini semakin kuat,” ujar mantan Dubes RI untuk Rusia tersebut.

Sementara itu, staf pengajar Hubungan Internasional Universitas Indonesia Yeremia Lalisang lebih tertarik membicarakan pertukaran pelajar Indonesia-China yang melibatkan kalangan santri dalam forum tersebut.

“Santri sekarang memainkan porsi yang signifikan, walau pun dari segi jumlah relatif kecil. Tapi justru dari yang kecil ini paling aktif sehingga menjadi perhatian khusus karena terkadang jumlah tidak mencerminkan kualitas,” ujar peraih doktor Hubungan Internasional dari salah satu perguruan tinggi di Xiamen, Provinsi Fujian, itu.

Oleh sebab itu dia berharap makin banyak kalangan santri yang berminat belajar di China.

Dalam kesempatan tersebut, Rais Syuriah PCINU Tiongkok Imron Rosyadi Hamid mengatakan bahwa perlu waktu untuk mengubah sikap masyarakat Indonesia lebih baik lagi dalam memandang hubungan Indonesia-China.

“Ini sebenarnya tugas kita bersama. PCINU telah banyak berkomunikasi dengan teman-teman muslim di China,” ujarnya dalam seminar virtual yang dipandu Ahmad Syaifuddin Zuhri, kandidat doktor Central China Normal University (CCNU) Wuhan itu.