Pemerintah Bakal Beri Stimulus Dorong Industri Perfilman

fajar.co.id
fajar.co.id

TOTHEPOINT – Pemerintah melalui Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyatakan akan memberi stimulus untuk mendorong pemulihan industri perfilman nasional. Stimulus diberikan untuk pengerjaan film yang mengangkat keberagaman dan nilai persatuan Indonesia.

Menghadiri acara gerakan Ayo Kembali ke Bioskop di Plaza Senayan, Jakarta, pada Minggu (30/5), Sandi melontarkan apresiasi atas film Tjoet Nja Dhien (1988) besutan Eros Djarot yang dibintangi Christine Hakim yang dinilai penting bagi perfilman Indonesia. Baru-baru ini, film Tjoet Nja Dhien direstorasi dan kembali ditayangkan di bioskop.

“Film nasional ini berhasil menghadirkan film yang epik dengan 8 Piala Citra dengan segala keterbatasannya. Hari ini kita merayakan kembali achievement dari film terbaik karya anak bangsa yang sudah direstorasi, bekerja sama dengan pihak internasional, dalam hal ini Belanda,” ujar Sandi.

Sandi mengatakan, program pemulihan ekonomi nasional khusus perfilman Indonesia akan dituntaskan tak lama lagi. Menyadari ada puluhan ribu masyarakat yang hidupnya bergantung pada pergerakan industri film, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menghadirkan berbagai kebijakan berpihak secara bersama-sama.

Nilai serupa, lanjutnya, diperlihatkan oleh Cut Nyak Dien yang berjuang pantang menyerah sampai penghabisan.

“Karena sekarang di masa pandemi Covid-19, yang bisa menyelamatkan kita adalah diri kita sendiri dengan disiplin protokol kesehatan Covid-19. Perjuangan dan keteguhan hati Cut Nyak Dien memperlihatkan banyak pembelajaran, nilai-nilai perjuangan, kesetaraan gender, dan nilai-nilai luhur dari Aceh yang perlu kita berikan penghormatan,” ungkap Sandi.

Lebih lanjut Sandi menjelaskan, pihaknya ingin mengangkat keberpihakan terhadap film nasional. Dia memberi contoh, sekitar 1.500 orang terlibat dalam penggarapan film Tjoet Nja Dhien.

Pandemi diakui memukul telak industri film, di mana pada 2019 lebih dari 50 juta orang memenuhi bioskop. Dalam upaya memulihkan sektor tersebut, pemerintah menjalankan tiga program.

“Dukungan PEN untuk industri film yakni kampanye promosi film, meningkatkan jumlah penonton dengan buy one get one, stimulus produksi film dengan seleksi dari dewan film dan kurator. Sehingga, suplainya bisa bersaing dengan film luar negeri,” kata Sandi.

Sandi berharap, stimulus itu dapat mendukung produksi film berkualitas yang mengangkat nilai keindonesiaan, termasuk di dalamnya nilai persatuan dan keberagaman.

Merespons apresiasi Sandi, Eros Djarot mengatakan bahwa dirinya membutuhkan riset selama 18 bulan, membaca sekitar 120 buku.

“Saya saat melempar skenario dibaca terlebih dahulu oleh 25 tokoh. Kami harap intelektual diskursus dihidupkan kembali dalam memproduksi film sejarah dengan melibatkan masyarakat. Kami juga berharap pihak bioskop dapat memberikan porsi layarnya untuk perfilman nasional,” katanya.(*)