Pecah Rekor, Harga Minyak Dunia Tertinggi Selama 13 Bulan Terakhir

Tothepoint.id, Jakarta- Harga minyak dunia kembali menyentuh level tertingginya dalam 13 bulan terakhir. Penguatan harga minyak, sejalan dengan masifnya vaksin covid-19 yang diyakini akan menghidupkan kembali permintaan BBM di tengah pemangkasan produksi.

Masifnya vaksinasi Covid-19 memiliki dampak positif terhadap harga minyak dunia. Dalam 13 bulan terakhir, mengutip Antara, harga minyak mencapai level tertinggi.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April naik 70 sen atau 1,1 persen menjadi US$63,13 per barel. Tapi, pada sesi yang sama, harga sempat menyentuh level US$63,76, tertinggi sejak 22 Januari 2020.

Kemudian, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS pengiriman Maret meningkat 63 sen atau 1,1 persen menjadi US$60,10 per barel, sempat menembus US$60,95 atau tertinggi sejak 8 Januari 2020.

Secara keseluruhan, harga minyak tercatat naik sekitar 5 persen sepekan lalu. Harga minyak memang reli selama beberapa terakhir yang ditopang pengetatan pasokan oleh negara-negara pengekspor minyak (OPEC), termasuk sekutunya (OPEC+).

Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengungkapkan pasar minyak global dalam jalur pemulihan. Diperkirakan, harga minyak pada tahun ini mencapai rata-rata US$45-US$60 per barel.

“Kami melihat volatilitas rendah dalam beberapa bulan terakhir. Ini berarti, pasar seimbang dan harga yang kita lihat hari ini sejalan dengan situasi pasar,” ungkap Novak.

Namun, di sisi lain, sentimen dari paket stimulus AS oleh Presiden Joe Biden terus bergulir. “Paket US$1,9 triliun lama ditunggu-tunggu dan belum disahkan. Padahal, data ketenagakerjaan mengisyaratkan pasar sedang kesulitan,” tutur Analis Minyak PVM Oil Associates London Tamas Varga.

Sentimen negatif lainnya, para pekerja industri minyak di Norwegia berencana untuk menggelar aksi mogok. Jika benar, mogok pekerja bakal mengganggu produksi di ladang terbesar di Norwegia itu yang berkontribusi sepertiga terhadap produksi minyak mentah Norwegia.

Selain itu, produksi minyak di AS akan terpengaruh cuaca dingin ekstrem yang tidak biasa di Texas dan Oklahoma.

Jutaan orang tidak mendapatkan pasokan listrik dan beberapa kilang membatasi pemrosesan juga karena cuaca dingin ekstrem, yang berkisar antara 21 hingga minus 8 derajat Fahrenheit (minus 6 hingga minus 22 Celcius).