Pandemi Jadi Tantangan PLN Kembangkan EBT

TOTHEPOINT– Direktur Mega Proyek dan EBT PT PLN (Persero) Muhammad Ikhsan Asaad menegaskan komitmen perseroan untuk terus melakukan transformasi dan mendukung pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) meski kondisi pandemi COVID-19 menjadi tantangan tersendiri.

Ikhsan menjelaskan kapasitas terpasang pembangkit EBT PLN pada 2020 mencapai sekitar 8 GW dari total kapasitas sebesar 63 GW. Sementara itu, capaian EBT pada 2020 dalam bauran energi nasional baru 11 persen.

“Kami masih ada celah untuk bisa mencapai produksi EBT pada 2025. Kami sudah memetakan dan mengeksekusi sejumlah proyek untuk mendorong bauran energi, tapi kondisi pandemi saat ini cukup membuat gap konsumsi listrik, permintaan pun anjlok,” katanya.

Kendati demikian, Ikhsan mengatakan pihaknya melakukan optimalisasi aset eksisting, diantaranya dengan mempercepat penyelesaian pembangkit hydro dan panas bumi yang tengah dibangun dan mengimplementasikan pengembangan EBT.

Pengembangan EBT yang dimaksud meliputi konversi pembangkit diesel ke EBT serta menerapkan co-firing biomassa di PLTU.

“Kami berkomitmen untuk bisa mencapai 23 persen energi baru dan terbarukan pada 2025,” katanya.

Ikhsan menambahkan selain berkomitmen atas target tersebut, pihaknya juga memberi perhatian terhadap keamanan energi sehingga terus mendorong percepatan pengembangan EBT.

“Keamanan energi dan mitigasi perubahan iklim jadi pendorong utama untuk transformasi energi dari fosil ke EBT,” katanya.

PLN sendiri memiliki program transformasi prioritas perencanaan jangka panjang di bidang pengembangan energi baru terbarukan.

Program tersebut meliputi pengembangan pembangkit EBT yang tertuang di dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) dengan kapasitas 5 GW.

PLN juga mengimplementasikan co-firing atau penggunaan bahan bakar biomassa sebagai pengganti batu bara untuk PLTU serta konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ke EBT.

Terakhir, program large scale renewable, yaitu pengembangan pembangkit EBT berbasis hydro dan panas bumi skala besar dengan potensi mencapai 3,6 GW.

Pemerintah menargetkan bauran energi baru terbarukan bisa mencapai 23 persen pada 2025.(*)