Noken Lab: Melawan Rasisme dengan Tarian

Tothepoint.id, Jakarta– Noken Lab menjadi salah satu kelompok tari kontemporer yang tampil nyentrik di berbagai pertunjukan dan banyak kompetisi. Hebatnya, mereka tidak hanya merambah pentas nasional saja, tapi juga internasional.

Selain gerakan tari yang unik dan energik, Noken Lab juga menyita perhatian karena personelnya. Kelompok seni tari ini didominasi oleh perantau-perantau Papua yang memiliki kesamaan misi dan visi dalam kesenian.

Freddy Sangganefa, Ketua Noken Lab menyebut, kelompok tari itu lahir dari banyak keresahan tentang stigma-stigma liar yang muncul di masyarakat tentang orang Papua. Hal ini kemudian menjadi dasar lahirnya sikap rasisme.

“Kita bangga dengan derah kita sendiri, kita orang papua tidak selalu dicap nakal, keras, ganas dan juga bodoh. Namun kami juga bisa berkreasi menghasikan satu prestasi. Bereksperimen untuk melawan stigma itu,” katanya.

Kelompok seni Noken Lab sendiri lahir pada tahun 2017 lalu. Sebagai seniman, Noken Lab, sebut Freddy, mendapatkan ide tari dari cerita-cerita tetua adat Papua tentang kebudayaan mereka.

“Dari sanalah kami membuat karya seni tari kontemporer yang digabung dari seni tari tradisional. Karya itu yang kami bawa hingga ke luar negeri. Kami ingin menunjukkan pada nasional maupun internasional bahwa kami orang papua,” sebut Freddy.

Lewat tari, mereka ingin melawan rasisme dan semua stigma negatif tentang orang Papua. “Kami ingin menunjukkan pada nasional maupun internasional bahwa kami orang papua. Meskipun kami hidup di era modernisasi, tapi kami tidak pernah melupakan jati diri kami. Budaya akan tetap kami angkat,” tegas pria yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil itu.

Rheza Oktavia yang merupakan salah satu anggota Noken Lab yang bukan Papua itu juga mengucap hal yang serupa. Bagi dia dengan bergabung dengan kelompok seni itu, ia juga ingin membuka mata masyarakat tentang imaji negatif terhadap orang Papua.

“Kalian bisa lihat sendiri mereka (orang Papua) tingkahnya masih bisa membaur dengan yang lain. mereka bisa ajak kalian becanda, mereka bisa bikin kalian ceria. Saya juga bilang ke orang tua kalau orang-orang papua ini yang ajak saya buat kerja, dan menambah pengalaman. Jadi orang tua saya melihat bukti nyata hubungan saya dengan orang papua,” papar Rheza.

Selama berkarya bersama Noken Lab, Freddy memiliki kenangan indah bersama kelompok yang ia pimpin. Namun yang paling bekesan adalah ketika mereka ditunjuk tampil saat pembukaan Asian Games 2018 lalu di Stadion Gelora Bung Karno.

“Saya sampai nangis karena kami disaksikan oleh orang banyak, oleh pemimpin-pemimpin negara di Asia. Saat itu kami sadar, bahwa ini Indonesia. Bukan lagi soal kami orang papua, tapi ini Indonesia,” kenang Freddy.

“Dari Papua, Kami berkarya untuk Indonesia,” tegasnya.