MPR: Aksi Terorisme di Indonesia Banyak Melibatkan Generasi Muda

TOTHEPOINT-Pemerintah telah memblokir belasan ribu konten-konten di media sosial yang bermuatan radikalisme dan ekstrimisme agama.

Hal itu sebagaimana diutarakan Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah dalam diskusi Empat Pilar MPR RI bertema Menangkal Penyusupan paham Ekstrimisme di Kalangan Kaum Muda, Senin (26/4).

“Terorisme konten terbanyak yang di blokir, di Platform Face book dan Instagram,  ini sampai 8131 konten , kemudian YouTube 678 content , kemudian telegram 614 content dan di situs kebanyakan 494 content,” jelasnya.

Sejak dua puluh tahun terakhir, Indonesia tercatat telah terjadi sekitar lima ratus lebih aksi aksi teror yang terjadi, atau jika dihitung rata rata, sekitar dua kali serangan dalam sebulan.

“Aksi terorisme di wilayah negara kesatuan republik Indonesia, dengan 253 bulan sebanyak 253 bulan itu berarti rata-rata selama 20 tahun terakhir ini, ada dua kali kejadian aksi teror setiap bulannya, kalau diakumulasi secara rata-rata,” jelasnya.

Basarah menyebutkan, aksi terorisme yang terjadi banyak melibatkan generasi muda yang saat ini mendominasi penduduk Indonesia.

“Kalau kita berdasarkan data statistik yang saya catat, bahwa generasi milenial yang lahir tahun 81-96, itu mencapai 69,90 Juta atau 25,8%, generasi Jet yang lahir tahun 97-2012, mencapai 75,4 juta jiwa atau 27,9 %, maka presentasinya di total menjadi sekitar 53% dari jumlah penduduk Indonesia, jumlah yang yang tidak sedikit untuk komposisi penduduk Indonesia,” terangnya

Politikus PDIP ini menyebutkan, banyak sekali generasi muda yang bisa terjerumus dalam terorisme, salah satu faktornya adalah generasi muda memiliki jiwa militansi kuat.

“Jadi dari fakta-fakta ini teman-teman sekalian memang kelihatanmya  kaum terorisme menyasar generasi muda yang memang lapisannya begitu amat besar,  sebagai aksi pelaku aksi bom bunuh diri, karena memang pada umumnya generasi muda ini masih memiliki jiwa militansi yang begitu kuat, sehingga kalau berhasil di rekrut,  mereka akan menjadi kaum teroris yang sangat militan,” terangnya.

Basarah menambahkan, persoalan soal terorisme adalah pemerintah abai menata mental dan ideologi bangsa.

“Akar persoalan munculnya deradikalisme dan extrimisme agama di tengah-tengah masyarakat kita karena salah satu faktornya adalah negara kita atau pemerintah kita pernah abai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya membangun dan membina mental ideologi bangsanya sendiri,” tegasnya.(*)