Melihat Budaya Asing Di Dalam Pedesaan (Krisis Budaya Dan Identitas)

Tothepoint.id, Papua – Banyak ikon dunia bertebaran di desa-desa Indonesia. Menjadi viral dan diburu oleh orang-orang sebagai tempat mengabadikan momen (berfoto) di tempat itu. Istilah ini populer disebut dengan tempat yang Instagramble. Membangun tiru-tiruan ikon di dunia adalah salah satu cara untuk memikat orang datang ke suatu desa, biasanya penikmat wisata ini adalah orang-orang kota yang sudah jenuh dan ingin berlibur ke daerah asri seperti perkampungan desa.

Bagian krisisnya terletak kepada apa yang ditampakkan pada desa itu. Mereka lebih memilih hal-hal yang bukan budaya dan identitas mereka sendiri, malah memilih di luar demikian. Orang-orang di pedasaan justru ingin membangun Menara Eiffel, Big Ben, dan Kincir Angin yang direplikasi dari aslinya. Dibanding mereka mambangun apa yang berpotensi di kampung/desa sendiri.

Salah satu desa yang dilirik adalah Desa Sarasah, Kab. 50 Kota, Sumatera Barat. Selain membangun objek wisata Kampung Eropa, di sini juga terdapat Kampung Jepang dan Korea serta dalam jumlah kecil Rumah Gadang khas Minangkabau.

Menurut Ahli Cagar Budaya Bambang Eryudhawan pada fenomena ini ia katakan “Ikon-ikon yang dibangun hingga pelosok desa itu menandakan kita miskin dan krisis identitas. Kita jadi konsumtif, dan menggampangkan semua cara, artinya ini jadi krisis, sebenarnya krisis kebudayaan,” jelasnya.

Fenomena terkini yang memenuhi ruang-ruang publik seperti demikian. Ikon-ikon wisata dunia dibangun dan dipaksa menjadi ikon domestik dengan tujuan untuk menarik minat wisatawan. Alhasil, kota dan kabupaten yang terobsesi menjadi popular itu hilang daya tarik inherennya. Tak lagi ada ciri khas, tradisi, dan akar budaya yang menawarkan keragaman.

https://properti.kompas.com/read/2020/12/21/092258421/menara-eiffel-ada-di-pelosok-desa-bentuk-krisis-identitas-dan-budaya