Masyarakat Perlu Diberi Peran Dalam Penanganan Terorisme

TOTHEPOINT-Peraturan Presiden Nomor 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme Tahun 2020–2024 menunjukkan respons cepat negara untuk menanggulangi terorisme, demi menciptakan rasa aman bagi masyarakat. 

Namun, pakar hukum Hikmahanto Juwana seperti dilansir Antara menyampaikan, dalam penanganan teroris jangan hanya dilihat norma-normanya saja, tetapi juga perihal implementasinya.

“Melihat hal ini perlu kiranya pemerintah mendorong sebuah sistem baru ataupun perbaikan sistem terkait dengan regulasi dan penanganan terorisme di Indonesia. Dimulai dari merefleksi dengan menganalisis regulasi sampai kepada tindakan penanggulangan terorisme,” katanya dalam keterangan tertulis seperti yang disampaikannya dalam webinar bertema Refleksi Regulasi Anti Terorisme Ditinjau Dari Stabilitas Keamanan Negara yang digelar IMMH UI, Minggu (18/4).

Pakar intelijen, Susaningtyas Nefo Handayani Kertapati mengingatkan, penanganan teroris tidak cukup hanya dilakukan melalui seminar saja. Namun implementasi dari regulasi diperlukan, sehingga dapat bernilai efektif untuk memberantas terorisme di Tanah Air.

“Beberapa regulasi antiterorisme sudah cukup dan baik, tetapi perihal penanganan pada regulasi terorisme tersebut perlu diperluas dari berbagai sektor, terlebih masyarakat perlu juga diberikan peran dalam penanganan,” ujarnya.

Sementara itu, Mantan Pimpinan Jamaah Islamiyah, Nasir Abbas mengatakan, regulasi penanganan terorisme di Indonesia sudah baik, sehingga kini yang diperlukan sosialisasi dan edukasi regulasi saja.

Sebab, menurutnya, pemberantasan itu bukan masalah undang-undang semata, tetapi masalah kepekaan masyarakat.

Wakil Ketua IMMH UI, Fahmi Zakky menyampaikan perlunya refleksi regulasi antiterorisme dengan meninjau beberapa faktor internal dan eksternal. Lalu, diperlukan juga penilaian efektivitas baik dari struktur hukum, substansi hukum, dan budaya hukum.

“Mengingat peristiwa terorisme masih berjalan masif, terlebih belum lama ini terdapat kejadian teror di Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, ada tanggal 28 Maret 2021,” katanya.(*)