KPK Kembali Sita Uang di Kasus Edhy Prabowo, Total Sudah Rp 71,3 Miliar

Tothrpoint.id- KPK kembali menyita sejumlah uang tunai dalam perkara suap izin ekspor benih lobster atau benur yang membuat eks Menteri KP, Edhy Prabowo, sebagai tersangka.

Uang disita dari seorang saksi yang merupakan swasta bernama Syammy Dusman. Jumlahnya mencapai Rp 3 miliar yang diduga masih terkait kasus.

“Syammy Dusman, kepada yang bersangkutan dilakukan penyitaan sejumlah uang yang diduga terkait dengan perkara,” kata Plt juru bicara KPK, Ali Fikri, dalam keterangannya, Selasa, 23 Maret.

Ali belum menjelaskan mengapa uang tersebut disita dari Syammy, apakah merupakan pemberian Edhy atau tidak.

Adapun uang Rp 3 miliar merupakan penyitaan kesekian kali yang dilakukan KPK pada kasus ini. Sebelumnya KPK sudah menyita uang tunai sebesar Rp 16 miliar yang didapat saat OTT dan dari beberapa pihak.

Kemudian KPK menyita Bank Garansi senilai Rp 52,3 miliar yang disimpan di Bank BNI 46 cabang Gambir. KPK menduga Bank Garansi tersebut merupakan setoran dari para eksportir yang sudah mendapat izin ekspor benih lobster.

Sehingga total uang tunai yang disita KPK dalam perkara benur mencapai Rp 71,3 miliar. Selain itu, KPK sudah aset berupa vila; barang mewah; hingga puluhan sepeda dalam perkara Edhy.

Dalam perkaranya, Edhy melalui dua staf khususnya, Safri dan Andreau Pribadi Misanta, diduga mengakali perizinan ekspor benih lobster yang berujung permintaan fee kepada para calon eksportir. Ketiganya sudah menjadi tersangka.

Sementara dari pihak penyuap baru satu yang dijerat yakni Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama, Suharjito. Ia didakwa menyuap Edhy Prabowo sekitar Rp 2.145.995.440. Diduga, suap diberikan dalam bentuk rupiah dan dolar AS, yakni USD 103.000 atau setara Rp 1.439.940.000 (kurs Rp 13.980) dan Rp 706.055.440.