Kodam Siliwangi Gelar Komsos Cegah Radikalisme dan Separatis

TOTHEPOINT – Kodam III/Siliwangi menggelar pembinaan komunikasi sosial (Komsos) cegah tangkal radikalisme dan separatiseme. Pembinaan Komsis ini mengambil tema ‘Meneguhkan Toleransi Mencegah Radikalisme dan Separatisme’ yang diadakan di Aula Citra Bhakti Kodim 0618/BS Jalan Bangka No.2 Kota Bandung, Rabu (9/6).

Kegiatan  komsos  Kodam III/Siliwangi  dihadiri Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto yang diwakili Pabandya Komsos Ster Kodam III/Siliwangi Letkol Inf Himawan, Wakabintaldam III/Siliwangi Letkol Caj Tajudin, Ketua Forum Ormas LSM dan Komunitas Jawa Barat R.Hendra Mulyana,SH, para perwakilan Ormas LSM dan Komunitas Jawa Barat.  

Dalam kegiatan Komsos tersebut dibuka Panglima Kodam III/Siliwangi Mayjen TNI  Nugroho  Budi Wiryanto yang diwakili oleh Pabandya Komsos Ster Kodam III/Siliwangi Letkol Inf Himawan. Dia menyampikan ucapan selamat datang dan trima kasih atas kehadiran tamu undangan.

Dalam kegiatan komsos tersebut dimulai dengan pembinaan mawasan kebangsaan disampaikan dalam rangka Komsos Cegah Tangkal Radikalisme dan Separatisme yang disampaikan oleh Yaya Sunarya SHMM (Ketua FKPT Jabar). Dalam pemaparannya, dia mengatakan, akan rawannya radikalisme dan separatisme yang ada di negara kita (NKRI).

“Bagaimana langkah kita untuk mengantisipasi dan menangkal adanya radikalisme dan separatisme di negara kita, karena Pancasila adalah satu satunya Ideologi bangsa Indonesia yang tidak dapat dipisahkan,” ujarnya dalam keterangannya yang diterima Republika.co.id, Rabu (9/6).

Menurut Yaya, ada 4 level toleransi yang harus diperhatikan. Yaitu merayakan perbedaan, melindungi perbedaan, menyenangi  perbedaan, dan membiarkan perbedaan. Mengutip hasil survei internasional, dia menyebut, kondisi negara Indonesia saat ini merupakan negara paling berpolusi, negara paling banyak tidur, 3 besar juara dunia pengakses situs porno, negara paling bahagia dan seterusnya.

“Yang menjadi pertanyaan bagi kita semua, apakah masih begitu, apa harus ada revolusi mental dan sebagainya…? Yang penting kita harus bisa mandiri, jangan sampai alih fungsi lahan, hindari kekerasan dalam beragama, mengedepankan ideologi, meningkatkan kegotongroyongan,” ujarnya.

Sementara pemaparan yang diberikan oleh Wakabintal III Kodam III/Siliwangi Letkol Caj Tajudin menyangkut teori ‘Menangkal Paham Radikal Melalui Peningkatan Wawasan Kebangsaan’. Namun, sebelum pemaparan diawali yel-yel Siapa Kita…? Indonesia, Pancasila? Yes, NKRI?  Harga  Mati, Kekuatan kita? 55. 

Dikatakan Tajudin, dampak radikalisme adalah menurunnya citra sebuah bangsa/negara dan agama, serta timbulnya sikap diskriminatif terhadap golongan tertentu. Karena itu, kata dia, perlu mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi radikalisme. 

Aktualisasi nilai nilai Pancasila dalam kehidupan bernegara ini yakni, negara dibentuk berdasarkan kesepakatan dan kesetaraan yang di dalamnya tidak boleh ada yang merasa sebagai pemegang saham utama atau warga jelas satu. “Negara memiliki kedaulatan penuh untuk menertibkan,” tegasnya.

Apalagi, ditegaskan dia, radikalisme merupakan paham yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD’45, yang memaksakan keinginan dengan cara kekerasan, sehingga dapat menghilangkan rasa nasionalisme, rasa dan semangat kebangsaan yang menimbulkan perpecahan.

Maka, ucap dia, untuk dapat mengatasi pengaruh radikalisme, setiap prajurit diharapkan memiliki mental yang tangguh yang merupakan akumulasi dari iman dan taqwa, nasionalisme/wawasan kebangsaan dan militan.

“Untuk membentuk mental yang tangguh diperlukan program pembinaan mental yang terus menerus dan berkesinambungan yang sinergis dengan BFK. Selama TNI Polri bersinergis dengan baik inshaa Allah NKRI selalu terjaga dengan baik. Kita harus menjaga dari paham radikalisme dan separatisme dari sebelah kiri dan sebelah kanan,” pungkas Wakabintal 3 Kodam III/Siliwangi.(*)