Ketua Komisi X DPR Minta Kemdikbudristek Segera Percepat Vaksinasi Anak

TOTHEPOINT –Ketua Komisi X DPR, Syaiful Huda, meminta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi agar segera mempercepat vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 12-17 tahun. Syaiful menyarankan pemerintah bekerja sama dengan lembaga pendidikan seperti sekolah berasrama dan pondok pesantren agar cakupan vaksinasi anak semakin besar.

“Ketika vaksin dinyatakan sudah bisa dipakai anak umur 12-17 tahun, tapi sampai hari ini saya tidak melihat respon cepat dari Kemdikbudristek atau kementerian lain untuk segera bergerak membuat skema vaksinasi anak,” kata Syaiful dalam konferensi pers secara virtual terkait hasil survei Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengenai vaksinasi anak dan pembelajaran tatap muka (PTM), Minggu (11/7/2021).

Syaiful menyesalkan tidak adanya inisiatif dan langkah cepat dari Kemdikbudristek untuk segera menindaklanjuti persetujuan vaksin untuk anak. Apalagi, jika melihat hasil survei P2G bahwa angka persetujuan orangtua untuk anaknya divaksin terbilang tinggi sebesar 63,3%.

“Tapi saya tidak melihat respon cepat dan bernas dari Kemdikbudristek untuk merespon mengenai sudah siapnya vaksin untuk anak umur 12 tahun,” kata Syaiful.

Menurut Syaiful, Kemdikbudristek seharusnya segera mengecek kepada Kementerian Kesehatan mengenai jumlah vaksin yang tersedia untuk anak, serta mendorong percepatan vaksinasi anak kepada satuan pendidikan yang akan melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM).

“Kalau tidak dimulai maka butuh berapa lama transisi waktunya? Kelihatannya ini masih inisiatif sektoral, belum terkomando,” katanya.

Sementara itu, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi, mengatakan pemerintah mengalokasikan 20 juta vaksin Covid-19 untuk anak usia 12-17 tahun yang akan diberikan secara bertahap. Sejauh ini, sebanyak 153.000 yang telah menerima vaksinasi secara nasional.

Menurut Nadia, meski vaksin anak sudah diizinkan, pemerintah saat ini masih menjadikan orang berusia di atas 18 tahun sebagai sasaran utama vaksinasi. Alasannya, peningkatan kasus pada anak saat ini disebabkan karena masih tidak terkendalinya laju penularan di kalangan orang dewasa.

“Bukan berarti anak-anak tidak menjadi prioritas, tapi yang lebih pentng saat ini adalah usia di atas 18 tahun karena data mengatakan bahwa betul kematian dan kesakitan pada anak meningkat tapi karena masih banyak orang dewasa di sekitarnya belum divaksin,” ujarnya.