Kerap Pakai Kedok Agama, Generasi Muda Diingatkan Agar Hati-Hati dengan Rekrutmen Teroris

PAPUADAILY – Ketua Program Studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Strategik dan Global Universitas Indonesia Muhammad Syauqillah mengingatkan kaum muda agar dapat mengantisipasi perkembangan perekrutan teroris era sekarang.

Muhammad Syauqillah di Jakarta, Sabtu, menyampaikan hal itu dalam acara BKN Pusat PDI Perjuangan bertema Terorisme Bukan Ajaran Agama.

“Saat ini, metode yang digunakan bukan saja offline, melainkan juga online, jadi senjata anak muda untuk menghadapi itu adalah kritis setiap menerima informasi dari media apa pun itu,” katanya dilansir dari Antara

Ia berpesan bahwa terorisme bukan ajaran agama mana pun, bahkan dalam Islam aksi teror sangat bertentangan dengan inti ajarannya yang mengedepankan penjagaan terhadap kehidupan.

Begitu pula dengan pengertian jihad, menurut dia, masih banyak pihak menyalahartikan dan mengaitkan dengan aksi teror.

“Tidak bisa dipungkiri juga memang pelaku teror itu rata-rata berbasis latar belakang keagamaan. Kalau di Indonesia, misalnya mayoritas beragama Islam, di India dan Myanmar itu Hindu dan Buddha,” katanya.

Jika melihat ke negara-negara lain, kata Muhammad Syauqillah, sebenarnya terorisme itu tidak dimonopoli atau milik dari agama-agama tertentu.

“Ada misalnya terorisme berbasis supremasi kulit putih, seperti yang baru-baru ini kita lihat di Amerika,” kata dia.

Ada juga teroris yang berbasis etnonasionalism, seperti PKK yang ada di Kurdi, Suriah, atau Turki.

“Ada pula yang terkait dengan gerakan right wing atau left wing seperti yang terjadi di Amerika Latin atau negara-negara lain,” ucapnya.

Fokus di Indonesia, lanjut Syauqillah, terkait dengan aksi teror itu berdasarkan latar belakang agama yang keliru. Banyak pihak yang menafsirkan ayat-ayat tentang perang yang itu kemudian tidak kontekstual.

Ia berpendapat bahwa konteks Indonesia sekarang merupakan negara yang darusalam atau damai bukan yang dalam keadaan perang. Namun, ternyata masih ada kelompok-kelompok seperti takviri dan salafi jihadi yang mengembangkan narasi-narasi perang di Indonesia.

Terkait dengan jihad, kata dia, banyak ditafsirkan secara keliru, seolah berperang itu jihad. Padahal, arti jihad itu sungguh-sungguh.

“Jadi, kalau konteks Indonesia yang damai ini bukan perang bentuk jihadnya, melainkan sungguh-sungguh menjaga kedamaian, bekerja, dan sungguh-sungguh menolong terhadap sesama, itu jihad,” kata Syauqillah.

Ia lantas menekankan bahwa teror bukanlah jihad, apalagi merujuk ajaran agama Islam memiliki inti menjaga kehidupan, sedangkan membunuh satu orang berarti membunuh kehidupan, atau membunuh umat manusia.

“Jadi, melakukan teror yang membunuh orang jelas menyalahi inti dari ajaran agama,” ujar Syauqillah.(*)