Kementan Sebut Kebutuhan Petani Milenial Sudah Mendesak

 TOTHEPOINT – Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi menilai upaya penumbuhan petani milenial merupakan kebutuhan mendesak mengingat 70 persen petani di Indonesia saat ini telah berusia tua.

“Penumbuhan petani milenial mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap harus dilakukan. Mulai saat ini juga, tidak boleh ditangguhkan lagi,” kata Dedi Nursyamsi, Kamis.

Dedi menuturkan dari 38 juta petani yang tersebar di penjuru Tanah Air, 70 persen di antaranya rata-rata berusia di atas 45 tahun dengan latar belakang pendidikan Sekolah Dasar (SD), bahkan sebagian tidak lulus.

“Sudah umurnya tua, pendidikan hanya SD, bahkan tidak lulus SD. Mana mungkin kita berikan beban menyediakan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar dia.

Tanpa regenerasi petani, menurut dia, kondisi pembangunan sektor pertanian amat mengkhawatirkan. Pasalnya, sepuluh tahun yang akan datang 70 persen petani tua tersebut memasuki usia pensiun alias tidak produktif lagi.

Oleh sebab itu, Kementan saat ini tengah menggenjot realisasi target 2,5 juta petani milenial hingga 2024 dengan kategori usia rata-rata di bawah 40 tahun.

Untuk mendukung pencapaian target itu, kata Dedi, Kementan telah menyiapkan berbagai program. Mulai dari pendidikan vokasi, pelatihan vokasi, program penumbuhan wirausaha pertanian (PWMP), program YESS, Kostratani, hingga beragam pameran.

Dalam waktu dekat, ia mengatakan, BPPSDMP juga akan menggelar “The 2nd Millenial Indonesian Agropreneurs (MIA) Expo 2021”. Kegiatan yang berlangsung 12-13 Juni 2021 tersebut akan berlangsung di Ambarukmo Plaza Yogyakarta.

“Pameran ini bertujuan memperkenalkan produk-produk para wirausahawan muda pertanian, khususnya PWMP serta memberikan motivasi untuk para milenial lainnya,” kata dia.

Dedi menambahkan regenerasi petani ke depan akan diarahkan untuk membangun pengusaha muda pertanian. Bukan sekadar dibekali kemampuan mengolah tanah, tanam, hingga panen, tetapi akan terjun langsung di sektor bisnis pertanian.

Bisnis pengusaha tani milenial antara lain bisa berwujud eduwisata agro yang menggabungkan aspek wisata dan pertanian, bisa pula lewat usaha-usaha yang ada di hilir dengan konsep bisnis kreatif.

“Di perkotaan sudah dibangun urban farming dengan cara hidroponik yang mampu menghasilkan berbagai sayuran yang bisa diatur kualitas dan kuantitasnya,” kata Dedi menambahkan.

Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan BPPSDMP Idha Widi Arsanti meyakini target 2,5 juta petani milenial bisa tercapai pada 2024. Alasannya, animo generasi muda atau kaum milenial saat ini cukup tinggi untuk terjun di bidang pertanian.

Ia mencontohkan, di DIY cukup banyak para pengusaha muda pertanian yang mulai mengembangkan urban farming dengan beragam kreativitas seperti vertikal garden dan hidroponik.

Berikutnya, lanjut Idha, di Jawa Barat juga memiliki potensi besar terlahir para petani milenial. Selain didukung ketersediaan lahan pertanian cukup luas, Gubernur Jabar Ridwan Kamil juga telah menginisiasi program 5.000 petani milenial sejalan dengan program Kementan.

“Pak Sultan (Gubernur DIY) juga ingin membangun jaringan agribisnis. Ini akan kita dorong menjadi program konkret,” kata dia.(*)