KEK Galang Batang Diharap Jadi Mesin Pemulihan Ekonomi Usai Krisis

TOTHEPOINT –Sebanyak 70 ribu ton Smelter Grade Alumina (SGA) dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang diekspor untuk kali pertama ke Malaysia. Nilai ekspor tersebut menyentuh US$ 21 juta.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan ekspor perdana 70 ribu ton SGA ini merupakan bagian dari target ekspor tahun pertama sebesar 1 juta ton/tahun dengan nilai ekspor US$ 300 USD. Target ekspor akan ditingkatkan pada tahun kedua menjadi 2 juta ton/tahun dengan nilai ekspor sebesar US$ 600 juta .

“Saya harapkan langkah ekspor KEK Galang Batang ini dapat dijadikan contoh bagi KEK lain di Tanah Air,” kata Airlangga dalam keterangan tertulis, Jumat (2/7/2021).

Saat hadir secara virtual dalam pelepasan ekspor perdana SGA KEK Galang Batang di Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, Airlangga menambahkan ke depannya KEK Galang Batang diharapkan mampu memberikan dampak bagi perekonomian nasional, melalui penurunan impor produk alumina karena sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Penggunaan tenaga lokal di KEK Galang Batang juga diprioritaskan, supaya manfaat dari KEK dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

Menurut Airlangga, keberhasilan KEK tidak terlepas dari dukungan semua pihak, baik pemerintah pusat maupun daerah. Pemda, kata Mantan Menteri Perindustrian ini, diharapkan dapat terus mendukung pengembangan KEK, khususnya terkait dengan perizinan daerah serta insentif pajak daerah dan retribusi daerah sesuai amanat UU Cipta Kerja.

Airlangga menjelaskan KEK Galang Batang akan fokus pada industri manufaktur modern, seperti industri hilirisasi bauksit, industri ringan, dan logistik modern yang ramah lingkungan. KEK tersebut memiliki lokasi geografis yang dinilai sangat baik untuk berintegrasi ke dalam rantai pasok industri global.

Sampai saat ini, KEK Galang Batang menyedot investasi Rp 14 triliun. Realisasi investasinya ditargetkan mencapai Rp 36 triliun di tahun 2025.