Inilah FIS, Mengubah Jalan Hidup Eks Napiter

TOTHEPOINT –Belasan pria terlihat tengah bercengkrama di salah satu sudut warung makan di kawasan Kelurahan Mayangan, Probolinggo pada Sabtu pagi (23/10/2021). Mereka melepas kerinduan karena sudah lama tidak bertemu.

Para pria tersebut adalah pengurus Fajar Ikhwan Sejahtera (FIS). Sebuah wadah yang berisikan mantan narapidana teroris (Napiter). Para pria yang dulu pernah dihukum dan masuk ke lembaga pemasyarakatan karena tersandung kasus terorisme. Dari belasan, lima di antaranya berasal dari Probolinggo.

Kelimanya adalah Isnaini Ramdhoni, Irfan Suhardianto, Bambang Susianto, Wisnu Dwi P, Karibun. Mereka di tahun 2018 pernah ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror. Kini mereka sudah menghirup udara bebas.

Suasana akrab dan hangat terlihat, saat semuanya berkumpul. “Bisa dibilang ini pertemuan kami, setelah ada yang baru bebas,” kata Isnaini Ramdhoni, salah satu eks napiter. Dikutip Radarbromojawapos.com.

Nampak dari mereka terlihat ada Syahrul Munif sebagai Ketua FIS. Ada pula Sarifudin Umar alias Ust Abu Fida, pembina pusat FIS. Nama terakhir yang disebut, dulu pernah tersandung kasus teroris dan tergabung sebagai JI.

Menurut Syahrul Munif, bersama dengan 6 pengurus dari FIS Pusat (Surabaya), mereka sengaja datang untuk bersilaturahmi dengan anggotanya yang ada di Kota Probolinggo. Dia juga banyak membeber soal sepak terjang FIS.

FIS adalah yayasan yang pusatnya berada Surabaya. Sebuah wadah yang diharapkan mampu berperan untuk deradikalisasi. Menjadikan dan mengubah citra eks dan stigma napiter, eks napiter yang telah kembali dan menyatakan dirinya bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

FIS berdiri setahun lalu itu kini beranggotakan 45 eks napiter. Ke-45 eks napiter yang tergabung dalam FIS tersebut telah sadar dan menyatakan diri bahwa mereka bagian dari NKRI. Mereka siap ambil peran untuk deradikalisasi di negara tercinta ini.

Syahrul sebelumnya tergabung dalam rombongan 21 teroris ISIS asal Malang. Dia bersama dengan 21 rekan lainnya bergabung dengan ISIS dan berlatih di Israel.

“Jadi 2014 lalu, saya bersama dengan 21 orang lainnya bergabung dan melakukan pelatihan bersama dengan ISIS. Di sana kami belajar merakit senjata dan bom. Selanjutnya kembali ke Indonesia dan sempat dinyatakan sebagai DPO.

Tahun 2017 saya ditangkap dan divonis 5 tahun penjara. Nah, dalam penjara tersebut banyak hal yang saya pelajari. Termasuk harus menerima keberagaman Islam yang ada di Indonesia. Dengan menerima keberagaman tersebut, maka mulai sadar bahwa apa yang dilakukan itu malah menciderai Ukhuwah Islam,” terang pria kelahiran Singosari, Malang itu.

Kemudian ia bersama dengan sejumlah eks napiter yang sudah mau menerima keberagaman serta kembali ke NKRI bersepakat untuk mendirikan wadah ini.

Ada beberapa tujuan berdirinya FIS. Di antaranya yakni melindungi dan menjaga mantan napiter agar ketika keluar nantinya tidak mendapatkan intimidasi serta kembali ke arah yang keliru.

“Menjadi bagian dari deradikalisme. Sebab cara memerangi radikalisme ini sangat efektif ketika dilakukan langsung oleh mantan atau eks napiter itu sendiri,” kata dia.

Sembari lambat laun memberikan penyadaran serta mengajak eks napiter lainnya yang belum menyatakan diri bergabung lagi dengan NKRI. Selain itu juga untuk masalah kesejahteraan ekonomi dan pendidikan. Serta berusaha untuk mengubah stigma yang terbangun pada eks naipter di kalangan masyarakat.

“Jadi, paling tidak dengan adanya wadah ini pemerintah lebih mudah mengakomodir dan mengawasi mantan atau eks napiter. Oleh karenanya kami juga minta dukungan kepada pemerintah setempat. Sebab kami juga akan berperan aktif dalam deradikalisasi. Dengan adanya wadah ini, kami saling membantu masalah ekonomi anggota, serta diharapkan bisa membiayai pendidikan bagi anak napiter yang tengah ditahan,” tandasnya.

Tentunya hal ini sangat dirasakan oleh anggotanya. Terutama di Kota Probolinggo, karena pada 2018 lalu, ada sekitar 13 warga Kota Probolinggo yang ditangkap lantaran terjaring teroris. Dari ke 13 napiter yang telah menjalani hukuman tersebut semuanya sudah bebas. Sebab dikurangi remisi dan lainnya. Adapun hukumannya beragam mulai dari 2 tahun hingga 4,5 tahun.

Isnaini Ramdhoni adalah salah satu eks napiter yang pernah dipenjara dua kali. Ia merasa sangat terbantu dengan keberadaan FIS. Sebab sebelum FIS terbentuk, dia pernah bergabung lagi dengan kelompok teroris usai dinyatakan bebas yang pertama.

“Saya ditahan Januari 2014 dan bebas Maret 2018 (kasus hendak mengebom di Surabaya). Selanjutnya di tahun 2018 saya terjerumus lagi, dan bulan Mei 2018 ditahan dan kemudian bebas Juni 2021,” kata Dhoni, panggilan akrabnya.

“Selain itu dengan adanya FIS dapat melindungi dari sejumlah ancaman atau intimidasi,” beber pria 38 tahun itu.

Irfan Suhardianto (44), eks napiter lainnya menambahkan, dengan adanya FIS ini, dia banyak mendapat pengetahuan. Sebab dia dibekali pemahaman bahwa apa yang dilakukan sebelumnya, keliru. Sebab itulah keberadaan FIS diharapkan dapat memberikan penyegaran serta menebus paham yang sebelumnya keliru tersebut.

“Jadi yang paling penting juga adalah stigma yang berubah. Kami ingin mengubah stigma yang ada. Sehingga pandangan masyarakat terhadap eks napiter, tidak dipandang sebelah mata. Sehingga eks napiter bisa diterima baik secara sosial dan ekonomi. Sebab para napiter juga membutuhkan lahan pekerjaan untuk menghidupi keluarganya,” tuturnya.

Irfan berharap, apa yang dilakukan oleh dirinya dan eks napiter lainnya yang tergabung di FIS, bisa memberikan pemahaman kepada warga. Termasuk napiter lainnya yang sempat terjerumus paham yang keliru. Sehingga bisa kembali dan menerima keberagaman yang ada.

”Kami akan dorong (napiter dan eks napiter lainnya, Red) memerangi hal yang keliru. Semoga hal ini terdengar dan banyak yang bergabung bersama kami,” imbuhnya lagi.***