Industri Otomotif Jadi Penyumbang Devisa Negara Terbesar ke 5

TOTHEPOINT – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan bahwa industri otomotif merupakan sektor yang cukup memberikan kontribusi ekspor ke luar negeri.

“Industri otomotif ini memang merupakan industri yang cukup memberikan kontribusi signifikan di ekspor,” kata Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Indrasari Wisnu Wardhana, Kamis.

Wisnu mengatakan, sektor otomotif merupakan faktor penting sebagai sektor yang menyumbangkan devisa ekspor kelima terbesar dari Indonesia, setelah besi baja, mesin, serta perlengkapan elektronik.

Ia menjelaskan, sektor otomotif menempati peringkat ke-6 terbesar ekspor non migas pada periode Januari-April 2021 sebesar 3,13 miliar dolar AS.

Adapun pertumbuhan ekspor sektor otomotif Indonesia mengalami kenaikan sebesar 35,67 persen pada periode Januari-April 2021, dibandingkan periode yang sama di 2020.

Hal tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa ekspor sudah bertransformasi dari yang berbasis komoditi menjadi berbasis manufaktur.

“Kita sudah bertransformasi dari yang berbasis komoditi menjadi manufaktur, karena di antara lima besar itu, tiga di antaranya industri manufaktur,” ujarnya.

Menurut data Kemendag, lima besar negara tujuan ekspor otomotif Indonesia, di antaranya Filipina, Vietnam, Thailand, Jepang dan Saudi Arabia.

Ekspor Indonesia ke negara-negara tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup baik yaitu masing-masing sebesar 41,27 persen (Filipina), 42,98 persen (Vietnam), 22,01 persen (Thailand), 34,25 persen (Jepang), 8,64 persen (Saudi Arabia) pada kuartal pertama 2021 dibandingkan periode yang sama 2020.

Wisnu menambahkan, peluang di sektor otomotif di dalam negeri juga cukup besar. Ia menyebut, rasio kepemilikan mobil di Indonesia dinilai masih relatif rendah yang hanya mencapai 99 unit per 1.000 orang, sehingga diproyeksikan industri otomotif dalam negeri masih bisa tumbuh lebih tinggi ke depannya.

Ia juga meminta pelaku industri otomotif dalam negeri untuk serius menggarap sektor ini, mengingat terbukanya peluang pasar akibat masih rendahnya rasio kepemilikan mobil.

“Jadi, kita lihat peluang potensial untuk meningkatkan sektor otomotif di Indonesia cukup besar,” pungkasnya.(*)