Hingga Maret, BSI Sudah Kucurkan Dana PEN Rp8,6 Triliun

Nasabah tengah melakukan transaksi di Bank Syariah Indonesia Cabang Hasanudin, Jakarta, Senin (1/2/2021) Penggabungan bank syariah BUMN, yakni PT Bank BNI Syariah, PT Bank Syariah Mandiri yang akan bergabung dengan PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) membentuk satu entitas baru yang diberi nama PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI. Hari ini Senin (1/2/2021) Presiden Republik Indonesia Joko Widodo akan meresmikan pendirian BSI. Tempo/Tony Hartawan

TOTHEPOINT-PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menyalurkan pembiayaan untuk program pemulihan ekonomi nasional (PEN) sebesar Rp8,6 triliun kepada lebih dari 60 ribu nasabah hingga Maret 2021.

Direktur Utama BSI Hery Gunardi dalam siaran pers di Jakarta, Jumat, mengatakan ditengah tantangan pandemi COVID-19, industri perbankan syariah masih terus bertumbuh kuat.

“Dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi nasional, BSI melakukan penyaluran pembiayaan ke berbagai sektor, melakukan penjaminan pembiayaan, dan subsidi margin (selisih),” kata Hery, Jumat.

Khusus di wilayah Jawa Tengah, BSI menyalurkan pembiayaan untuk PEN sebesar Rp495 miliar atau 5,7 persen dari total penyaluran PEN BSI secara nasional. Penyaluran pembiayaan PEN ini mayoritas disalurkan ke segmen konsumer atau sebesar 36 persen, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sebesar 23 persen, dan mikro sebesar 22 persen dari total pembiayaan PEN.

Dengan kapasitas lebih baik pascamerger, BSI berharap mampu berperan sebagai pilar baru ekonomi di Indonesia. Saat ini, kata Hery, BSI merupakan bank terbesar ketujuh di Indonesia dengan total aset sebesar Rp239,5 triliun dan memiliki lebih dari 1.300 cabang dan lebih dari 1.700 ATM, dengan akses lebih luas melalui pembukaan rekening secara daringmelalui BSI Mobile.

“Dalam meningkatkan inklusi keuangan syariah, BSI berupaya meningkatkan komposisi dana murah dan mengatur pembiayaan dengan margin yang kompetitif. BSI juga berupaya untuk mewujudkan bank syariah yang inklusif, universal, memiliki produk yang lengkap dan kompetitif, serta didukung teknologi digital,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyampaikan dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, lembaga keuangan syariah harus bisa berkompetisi dengan lembaga keuangan non syariah.

“Hal tersebut dapat dicapai melalui beberapa strategi diantaranya penguatan lembaga keuangan syariah melalui peningkatan permodalan dan SDM, integrasi ekosistem keuangan syariah dengan ekosistem digital, dan peningkatan literasi keuangan syariah melalui program edukasi dan riset,” ujar Wimboh.(*)