China Dukung Penghapusan Hak Paten Vaksin Covid-19

TOTHEPOINT – Juru bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng mengatakan bahwa Beijing mendukung proposal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk penghapusan perlindungan kekayaan intelektual pada vaksin COVID-19 untuk memasuki tahap konsultasi.

“China mendukung proposal WTO tentang pengecualian IP untuk bahan antiepidemi seperti vaksin COVID untuk memasuki tahap konsultasi teks,” kata Gao pada konferensi pers reguler di Beijing, Kamis, merujuk pada pada singkatan untuk kekayaan intelektual.

“China akan bekerja dengan semua pihak untuk berpartisipasi aktif dalam konsultasi dan bersama-sama mempromosikan solusi yang seimbang dan efektif,” kata dia, menegaskan.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Joe Biden mendukung proposal untuk mengesampingkan peraturan properti intelektual WTO, yang akan membuka jalan bagi negara-negara miskin untuk memproduksi vaksin sendiri.

Sejauh ini, vaksin COVID-19 telah didistribusikan sebagian besar ke negara-negara maju yang mengembangkannya, sementara pandemi masih melanda negara-negara yang lebih miskin, seperti India.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi juga menyatakan dukungan untuk penghapusan paten vaksin COVID-19 guna mendorong kapasitas produksi dunia terhadap vaksin.

“Ini adalah salah satu bentuk upaya kolaborasi dunia untuk meratakan jalan bagi akses vaksin yang setara bagi semua negara,” kata Menlu Retno, pekan lalu.

Pejabat Inggris dan Uni Eropa telah skeptis tentang manfaat usulan AS tersebut, sambil mengatakan mereka siap untuk membahasnya.

Pembuat obat dan beberapa pemerintah lain menentang gagasan itu, dengan mengatakan itu tidak akan menyelesaikan kekurangan inokulasi global.

Sementara itu, para pengembang vaksin seperti Moderna, Pfizer, dan BioNTech telah berargumen bahwa selama ini paten tidak menjadi faktor yang membatasi pasokan. Teknologi baru dan keterbatasan global terkait pasokan kerap disebut sebagai tantangan, dan baik Moderna maupun Pfizer telah secara stabil meningkatkan perkiraan pasokan.

“Tak ada kapasitas manufaktur mRNA di dunia,” ujar pimpinan eksekutif Moderna, Stephane Bancel, dalam percakapan melalui sambungan telepon bersama para investor minggu lalu, merujuk pada teknologi messenger RNA di balik vaksin Moderna dan Pfizer.

Sumber: Reuters