Cerita Nelayan Hilang di Sulteng, Makan Kayu Lapuk hingga Minum Air Hujan

TOTHEPOINT – Nelayan asal Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng), Sibar Pakaya, akhirnya ditemukan di Provinsi Sulawesi Utara, pada Kamis (10/6). Sibar berjuang agar bisa hidup di tengah laut selama 4 hari.

Istri Sibar, Romana Bailia, menceritakan, suaminya itu hendak kembali ke Desa Luksagu, Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) dari Desa Sobol, Kecamatan Mantoh, Kabupaten Banggai pada Minggu (6/6), pukul 15.30 WITA. Namun, Sibar menginformasikan kepada istrinya, apabila lambat tiba, ia masih singgah memancing sebelum meneruskan perjalanan.

“Kalau tidak ada arus, 3 jam sudah tiba,” katanya.

Tetapi, hingga pukul 22.00 WITA, Sibar belum juga tiba. Namun, sang istri berpikir suaminya masih memancing, sehingga belum tiba.

“Tidak bawa HP, jadi tidak ada komunikasi,” katanya kepada media ini, Jumat (11/6).Romana terus menanti suaminya di pantai Desa Luksagu, Kabupaten Bangkep. Hanya saja, hingga pukul 01.00 WITA, belum juga tiba. Bahkan, hingga pukul 04.00 WITA, penantian Romana di pantai sia-sia.

“Biasanya orang memancing jam 12 malam sudah datang, tapi sampai jam 1 belum ada. Saya masih di pantai itu menunggu karena lihat ada lampu kilat karena dia bawa lampu kilat,” ujarnya.

Pada Senin (7/6), Romana menghubungi keluarga Sibar di Desa Sobol, Kabupaten Banggai. Tetapi menurut mereka suaminya itu telah bertolak ke Desa Luksagu, Kabupaten Bangkep. Romana lalu meminta salah satu warga Desa Luksagu yang memiliki kapal penangkap ikan agar mencari suaminya di tengah laut, tetapi sampai seharian tidak juga ditemukan.

“Hari Senin jam 6 sore, saya melapor ke pemerintah desa,” katanya.Pemerintah Desa Luksagu, Kabupaten Bangkep kemudian melaporkan kejadian ini ke Kantor Pencarian dan Pertolongan Kota Palu, Selasa (8/6).

Namun, pencarian itu tak membuahkan hasil hingga hari kelima sejak hilang. Sibar akhirnya terdampar di Kecamatan Pinolosian, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Kamis (10/6).

Menurut Romana saat saling video call, Sibar mengakui, mesin ketinting yang dikemudikan tak bisa lagi dinyalakan. Di sisi lain, angin bertiup kian kencang.“Katanya dia sudah pasrah, mau ditemukan atau tidak,” katanya.

Di tengah laut, kata dia, suaminya hanya mengunyah kayu lapuk yang ditemukan hanyut untuk menyambung hidup. Setelah itu, memakan daging cumi mentah.“

Hanya minum air hujan,” katanya.Hingga Jumat (11/6), nelayan berusia 44 tahun itu, masih berada di Desa Linawan, Kecamatan Pinolosian, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, untuk memulihkan diri karena kelelahan berhari-hari terombang-ambing di atas laut serta hanya makan dan minum seadanya.“Saya bilang nanti sudah rasa boleh-boleh, baru pulang,” katanya.(*)