Cara Jitu Milenial dan Gen Z Atasi Radikalisme

Tothepoint.id- Direktur Polhukam Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo Bambang Gunawan mengatakan gempuran informasi negatif tentang radikalisme dapat merusak sendi-sendi kebangsaan.

Menurutnya, banjir informasi termasuk konten negatif tentang radikalisme, terorisme dan ekstrimisme dapat mengancam keutuhan NKRI.

“Kominfo mendorong agar generasi milenial melakukan berbagai kegiatan untuk melawan paham yang bertentangan dengan Pancasila tersebut,” ujar Bambang dalam webinar terkait Peran Generasi Milenial dalam menangkal paham radikalisme, terorisme dan ekstrimisme yang diselenggarakan oleh Kominfo, Kamis (4/2/2021).

Tenaga Ahli Utama Kominfo Lathifa Al Anshori menjelaskan ada delapan cara milenial dan gen z melawan radikalisme.

“Say no to hoax, bekali diri dengan banyak referensi, jadilah anak muda yang kreatif dan inovatif dalam berkarya, aktif menyebarkan pesan damai, Open your mind, kuatkan literasi media, hindari kelompok intoleran dengan cara berkumpul dengan orang-orang yang sukses serta terakhir implementasikan makna Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Latifa.

Sementara Deputi 7 Badan Intelijen Negara Wawan Hari Purwanto membeberkan sekitar 16.000 aktivitas jaringan terorisme menggunakan medsos untuk propaganda.

Sebanyak 160 grup di medsos digunakan untuk membangun jaringan.

“Ada juga perekrutan di medsos. Bahkan (melalui medsos) bisa berlangsung tanya jawab satu sama lain, ada juga yang memberikan tutorial perakitan bahan peledak lewat medsos,” bebernya.

Oleh karena karena itu, Wawan menegaskan radikalisme menjadi ancaman nyata bagi generasi muda di Indonesia.

Menurutnya perlu ada sikap kritis dan kewaspadaan dari para orang tua jika melihat anak-anak yang terpapar doktrin radikalisme.

Peran strategis milenial dalam menangkal radikalisme menurutnya dengan cara memanfaatkan teknologi informasi untuk menyampaikan pesan-pesan perdamaian.

“Generasi milenal menjadi agent of change, menjadi pionir melawan radikalisme. Milenial harus aktif dalam kegiatan positif, aktif di organisasi kampus, bidang olahraga dan lainnya agar menjadi pribadi-pribadi yang berprestasi, sehingga dapat mengantisipasi dan mencegah masuknya paham radikalisme,” ujar Wawan.