Babak Akhir Kerusuhan di Mako Brimob Depok, Enam Teroris Dijatuhi Hukuman Mati

TOTHEPOINT-Sejenak mengingat kembali insiden pada 2018 silam, yang pada saat itu sebanyak 156 narapidana kasus terorisme terlibat dalam kerusuhan dengan polisi di Rutan Mako Brimob.

Para napi terorisme itu juga menyandera sembilan polisi di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, pada awal Mei 2018. Hingga menewaskan lima anggota Polri, yang sebagian besar anggota Densus 88, gugur akibat luka penganiayaan.

Namun kini akhir dari kasus kerusuhan itu, Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur telah menjatuhkan hukuman mati kepada enam terdakwa teroris tersebut.

Sebab mereka terbukti melakukan penyerangan, disertai kerusuhan di Mako Brimob Depok pada Mei 2018 silam.

Melalui keterangan resmi Humas PN Jakarta Timur, pada Kamis, 22 April 2021. Hasil putusan persidangan perkara terorisme di Mako Brimob itu, semua terdakwa menerima dan tidak menyatakan banding.

Sebagaimana dari enam teroris yang dijatuhi hukuman mati itu, diantaranya yakni Anang Rachman, Suparman alias Maher, Syawaluddin Pakpahan, Suyanto alias Abu Izza, Handoko alias Abu Bukhori, dan Wawan Kurniawan.

Dalam hal ini, putusan majelis hakim mempertimbangkan hal yang memberatkan para terdakwa di antaranya perbuatan mereka dinilai sangat sadis, dan tidak berperikemanusiaan.

Hingga mengakibatkan korban lima orang dari polisi meninggal dunia dan dibunuh dengan sadis, dan oleh karena terorisme merupakan perkara kejahatan luar biasa.

“Yang meringankan nihil atau tidak ada,” demikian keterangan Humas PN Jakarta Timur.

Berdasarkan catatan di masa itu, kerusuhan di Mako Brimob terjadi pada Selasa, 8 Mei 2018 malam di Blok C. Sebagaimana dikutip Pikiran-Rakyat.com dari laman PMJ News.

Berawal dari keributan oleh napi teroris bernama Wawan, dipicu soal makanan. Akan tetapi, belakangan diketahui para napi teroris itu ingin bertemu pimpinan JAD Aman Abdurrahman alias Oman.

Dengan tujuan itu, maka terjadilah peristiwa tersebut. Adapun lima anggota Polri yang gugur, mereka adalah Bripda Wahyu Catur Pamungkas, Bripda Syukron Fadhli Idensos, Ipda Rospuji, Bripka Denny, dan Briptu Fandi.

Terkait peristiwa itu, sebagaimana diberitakan sebelumnya bahwa dalam operasi penanggulangan penyanderaan yang dilakukan narapidana teroris di Rumah Tahanan Cabang Salemba Kelapa Dua Depok Jawa Barat, selesai selama 36 jam.

Hal ini diungkapkan Wakapolri Komisaris Jenderal Polisi Syafruddin. Ia menyatakan operasi penanggulangan berlangsung 36 jam selesai pada pukul 7.15 WIB.

Namun, Syafruddin mengungkapkan operasi penanggulangan penyanderaan itu tidak memakan korban tewas dari pihak narapidana teroris.

Dijelaskan pula saat itu, Wakapolri meminta waktu sejam untuk memastikan operasi tersebut tidak menimbulkan korban tewas dari kelompok narapidana itu.

Kemudian dalam proses penanggulangan penyanderaan itu, ditandai dengan seluruh narapidana teroris yang berjumlah 156 orang tersebut menyerahkan diri.

Syafruddin menegaskan operasi penanggulangan tersebut tidak terjadi negosiasi, kesepakatan maupun tawar menawar antara petugas kepolisian dengan kelompok penyandera.

Demikian, Syafruddin juga menyebutkan dirinya memimpin langsung operasi tersebut dengan melibatkan seluruh personil dari jajaran Polri.

Diungkapkan Syafruddin, keberhasilan operasi itu meminimalisasi korban tewas dari kelompok penyandera berkat kesabaran dan keteguhan hati dari seluruh anggota Polri yang terlibat.

Kendati, Syafruddin memohon maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia yang telah mencurahkan pikiran terkait insiden penyanderaan tersebut.(*)