10 Negara ASEAN Gelar Pertemuan Khusus Bahas Masalah Terorisme

TOTHEPOINT – Sepuluh negara ASEAN melakukan pertemuan guna membahas perkembangan terorisme di kawasan dan masing-masing negara. Pertemuan bertajuk ASEAN Our Eyes Working Group (AOE WG) ke-5 dipimpin Direktur Kerjasama Internasional Pertahanan Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Dirkersinhan Ditjen Strahan Kemhan RI) Brigjen TNI J. Binsar Parluhutan Sianipar di Jakarta, Selasa (4/5/2021)

Pertemuan dilaksanakan dua hari secara virtual melalui video conference dan diikuti 10 negara ASEAN yakni Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand dan Vietnam serta diikuti pula perwakilan dari Sekretariat ASEAN.

Menurut Binsar, ASEAN Our Eyes merupakan kerangka kerja sama pertukaran informasi strategis negara – negara ASEAN dalam upaya menangkal berkembangnya ancaman terorisme, radikalisme dan ekstrimisme di kawasan.

Agenda pertemuan AOE WG Ke-5 tersebut meliputi pertukaran informasi terkait update perkembangan terorisme di kawasan dan masing – masing negara ASEAN, perkembangan pembangunan fasilitas Our Eyes Command Center di masing – masing negara ASEAN, update pengembangan fasilitas ASEAN Direct Communication Infrastructure (ADI) serta pembahasan mengenai implementasi Standard Operating Procedures (SOP AOE).

Binsar saat membuka pertemuan tersebut mengatakan, terorisme saat ini masih menjadi ancaman yang berbahaya bagi keamanan dan kemanusiaan.

Menurutnya, ancaman terorisme semakin kompleks dan luas, teroris selalu mengubah metode dan cara menyebarkan ketakutan kepada masyarakat seperti memanfaatkan perempuan dan anak-anak, memperluas sasaran dan menggunakan media sosial untuk rekrutmen

“Dalam kondisi pandemi COVID-19 di mana semua negara fokus untuk mengatasi pandemi, teroris masih melakukan tindakan dengan melakukan aksi bom bunuh diri dan menembak aparat atau warga sipil untuk mengkampanyekan propagandanya serta menebar ketakutan kepada masyarakat di dunia”, ungkap Binsar.

Binsar menambahkan, untuk melawan terorisme di kawasan diperlukan metode terbaik dan efektif serta kerjasama bilateral dan multilateral yang komprehensif dengan memperluas koordinasi, kerja sama dan kolaborasi di antara negara-negara ASEAN.

Menurutnya, pengalaman telah menunjukkan bahwa kerjasama internasional telah memberikan manfaat untuk melawan terorisme. Upaya dasar dan penting adalah melakukan kerjasama pertukaran informasi. Kerja sama ini sangat penting untuk mengatasi ancaman teroris tanpa batas.

Ia mengatakan Informasi terkait terorisme harus diperbarui setiap saat dengan menggunakan input data dari seluruh negara di kawasan untuk menggambarkan perkembangan situasi dan tindakan terorisme. Informasi ini dapat menjadi indikasi tindakan terorisme untuk dianalisis dan menjadi peringatan dini.

Binsar berharap, implementasi SOP ASEAN Our Eyes in ADMM, menjadi momentum bagi negara – negara ASEAN untuk mempererat kerja sama dalam pertukaran informasi guna memerangi terorisme.

“Saya yakin negara – negara ASEAN memiliki visi dan tujuan yang sama untuk mengamankan negara dan rakyatnya dari ancaman teroris. Oleh karena itu kelompok kerja ini sangat penting dilakukan secara rutin tidak hanya untuk pertukaran informasi tetapi juga untuk pembelajaran”, tambah Dirkersinhan.(*)